Corona- Dari Ujung Timur Indonesia hingga Pamasola Santa Cruz-Bolivia

Spread the love

 

 

 

Sr. Angela, SSpS dan Mitra Kerja (dok. FB)

“Apapun yang terjadi dalam hidup kita

Bukanlah sebuah kebetulan

Tetapi Tuhan sedang merencanakan sebuah kepastian yang indah

Bagi masa depan kita ”

Dari refleksi diatas kita dapat bertanya; apa arti hadirnya pandemi covid-19 bagi kita? Pandemi ini mewabah ke seluruh, semua bidang terkena imbasnya. Semua bidang diharapkan agar segera move on, dalam situasi apa saja; baik maupun terburuk sekalipun. Dari ujung timur Indonesia-Papua aku ingin bersharing tentang kisah Covid-19 di tempat misi kita di pulau cenderawasih ketika hendak memulai pecan suci. Pada Minggu Palma, misa hanya dihadiri oleh ketua stasi sebagai perwakilan dari umat, dengan membawa palma untuk diberkati lalu dibagikan kepada umat di stasi masing-masing. Pada Jumat Agung, direncakan bahwa imam akan berkeliling dari stasi ke stasi dengan mobil sambil membawa monstran. Namun batal karena himbauan pemerintah agar stay at home. Kisah ini cukup membuat miris namun menarik untuk direfleksikan. Mengapa semua ini terjadi?

Palmasola Santa Cruz-Bolivia

Sr. Sanctisima, SSpS tengah, Misionaris Bolivia

 

Antara tanya dan refleksi, kita dibawa pada sebuah kenyataan yang harus dihadapi, seperti yang dialami oleh Sr. Santisima, SSpS misionaris Indonesia yang bermisi di Bolivia. Ditengah pandemic covid-19, semua kegiatan sejenak dihentikan, namun semangat misi para suster SSpS di Bolivia tidak dapat dihentikan. Justru ditengah kebingungan umat menghadapi situasi kalut, para suster SSpS hadir bersama mereka. Teriakan anak-anak, kekhawatiran ibu-ibu, dan kebutuhan makan minum napi di Palmasola menjadi pemantik yang membakar semangat misi para suster untuk melayani mereka dengan tetap waspada Corona.

Sr. Maria Sanctissima, SSpS, dan para suster di Bolivia mengambil bagian dalam misi membagikan makanan kepada anak-anak, ibu-ibu dan para napi dengan bekerjasama dengan pemerintah (pendidikan). Dia mengambil bagian untuk membelanjakan bahan makanan di pasar dengan jalan kaki. Walau agak kesulitan mendapat makanan namun ia tetap berusaha hingga mendapat bahan makanan untuk persediaan makanan Ibu-ibu, anak-anak dan para napi.

Para suster disibukan dengan penyediaan tempat untuk para Napi, karena harus dikarantina selama empat belas hari. Mereka melayani dengan penuh sukacita. Teriakan anak-anak yang penuh girang… Tia..Tia…  ketika melihat para suster datang untuk melayani, menjadi salah satu semangat bagi mereka, untuk terus melayani dengan penuh sukacita dan tetap waspada.

 

Sr. Angela, SSp& Sr. Sanctisima, SSpS

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *