Komunitas Roh Suci Menemani Indri menjadi Agus hingga Pergi Abadi

Spread the love
Sukacita Indri ingin kembali menjadi Agus

Sore itu HP berdering, ada pesan masuk dari Mami Rully, coordinator Waria Seruni Yogyakarta. Ia mengirim pesan bahwa seorang waria katolik ingin bertemu Suster, tetapi dia sudah lama tidak aktif sebagai katolik. Ia ingin sharing. Kami pun membuat janji untuk bertemu di biara. Pagi itu Indri datang ke biara dengan berkemeja putih, celana hitam dan tas samping di dadanya. Lelaki separuh baya itu memperkenalkan diri sebagai Mbak Indri dan nama laki-lakinya adalah Agus. Dengan Wajah pucat tatapan kosong, ia tertunduk dan dengan lirih mengatakan: suster, saya ingin sharing. Ia pun diberi kesempatan sharing dengan Sr. Stefani, SSpS.

Ia pun didampingi secara intensif oleh para suster, dan satu bulan kemudian mengatakan bahwa, ia sangat senang akhirnya berjumpa dengan para suster, ia merasa diterima kembali. Seiring berjalannya waktu, ia pun mengutarakan niatnya ingin bertobat menjadi seorang laki-laki seutuhnya dibawah pendampingan para suster dan ia ingin kembali ke pangkuan gereja katolik.

Niatnya untuk bertobat disambut baik oleh para suster. Hingga suatu ketika Sr. Detha Meko, SSpS menawarkan untuk pengakuan dosa. Ia pun menyambut baik tawaran tersebut. Walau cukup sulit menghubungi para imam, namun pada akhirnya P. Karny, SVD bersedia untuk memberi pengakuan kepadanya, sekalian dengan komuni dan pengurapan orang sakit.

Depan Soverdi SVD bersama Sr. Nely dan Sr. Ovi

Niat Mbak Indri untuk kembali menjadi Agus disambut baik oleh para suster Komunitas Roh Suci Yogyakarta. Pagi itu, ia datang diantar oleh salah satu waria menggunakan motor, ia turun dari motor dengan jalan terhuyung-huyung menaiki anak tangga biara, sehingga butuh untuk ditopang. Sebelum pengakuan dosa, para suster menemani Mbak Indri di kapel dengan mempersiapkan batin dengan berdoa bersama. Indri pun memulai pengakuan dosa, komuni dan diberi pengurapan Orang sakit disaksikan oleh para suster di Kapel Komunitas Roh Suci-Yogyakarta.

Bak diberi vitamin, ia kembali ceria dan menari-nari di refter Komunitas Roh Suci Yogyarta, wajahnya penuh sukacita. Ia berbisik bahwa ia sangat bahagia telah kembali ke pangkuan gereja, melalui kesempatan bertobat dan ia ingin kembali disapa dengan sebutan Agus. Ia rindu untuk menerima komuni kudus, dan ingin misa setiap hari bersama para suster. Sejak pengakuan dosa, ia rajin misa pagi bersama para suster bahkan disediakan sebuah kursi khusus untuk dia.

Perminyakan Orang Sakit oleh P. Karny, SVD disaksikan para Suster

   Malam Perpisahan

Suatu sore, ia datang membawa seorang teman waria yang berprofesi sebagai pemulung, dengan pakaian compang-camping di badannya namanya Mbok Slamet.  Mereka sangat sukacita, dari wajah mereka terpancar kebahagiaan ketika pintu biara dibukakan bagi mereka. Dengan suguhan seadanya, mereka menikmatinya dengan penuh sukacita. Sambil menikmati kue dan segelas teh serta buah anggur hasil panenan komunitas, kami semua terhanyut dalam nyanyi bersama. Mbok Slamet tiada henti-hentinya menikmati buah anggur yang disediakan dengan sesekali ia mengulang kata yang sama bahwa buah ini sangat mahal,dan saya belum mampu membelinya tetapi setiap hari ketika memulung, saya melihatnya di toko-toko buah didalam etalase. Saya menginginkannya namun belum mampu membelinya. Saya bersyukur hari ini bisa memakannya sedangkan Agus menyanyi penuh sukacita, yang rupanya itu adalah nyanyian perpisahan bagi kami.

Sukacita bersama setelah menikmati buah Anggur Hijau, Snack dan segelas Teh

Mencari Oase Hidup di jantung kota Istimewa-Yogyarta

Malam itu, Setelah pesta kecil di biara; makan anggur dan bernyanyi bersama, kami; Sr, Nely, Sr, Ovi dan Sr. Detha, mengantar mereka kembali Seruni, tempat para Waria tinggal. Sambil tertatih-tatih kami berjalan bergandengan tangan sambil bersenda gurau di pinggir jalan kota Solo, menuju tempat tinggal mereka di Seruni. Jl. Solo. Kami singgah menghantar pakaian bekas dan hasil memulung Mbok Slamet, lalu melanjutkan perjalanan ke Soverdi Yogyakarta, ingin memperkenalkan Agus ke para Pater SVD dan menunjukan Kapel yang ingin digunakan Agus untuk misa setiap hari minggu. Kami berdoa sejenak di kapel dan kemudian berjumpa dengan seorang imam SVD lalu kami kembali.

Mencari Oase Hidup

Agus Pergi Abadi

Sr. Ovi, Sr. Nely dan Sr. Anata disamping Jenazah Agus

Pagi itu, telpon tiada berhenti berdering ketika di kampus, namun saya enggan mengangkatnya karena sedang dalam kelas. Tiba-tiba pesan WhatSaap masuk. “suster Indri kecelakaan”. Saya hanya membalasnya: ok. Setelah dari kampus saya menuju Seruni. Setelah dari kampus, saya menuju Seruni dan mendapatinya masih sukacita. Ia hanya menunjukan benturan keras di kakinya. Karena melihat dia baik-baik saja, saya hanya membersihkan dan mengoles minyak dikakinya sambil mendengarkan dia berkisah tentang kronologi jatuhnya mereka. Setelah memastikan bahwa semua baik-baik saja, saya pun kembali melanjutkan perjalanan ke Biara dan berpesan kepada teman waria untuk menolongnya ketika ia membutuhkan air dan sebagainya karena ia  belum bisa jalan.

Malam itu pukul 00:13, Handphone saya terus berdering tiada henti. Agus menelepon bahwa ia kesakitan dan muntah-muntah. Saya hanya bertanya: muntah warna apa? dia menjawab sambil tertawa katanya: muntah makanan. Saya menyarankan  minum air panas untuk bertahan hingga pagi. Paginya ia berkabar bahwa, ia sudah sedikit tenang. Hingga sore itu pukul 16;00 saya dikabari bahwa Agus kini mulai melemah, ia tidak sadarkan diri lagi. Spontan bersama Sr. Nely menuju Seruni ia tidur  disaksikan banyak waria dan warga, kami mencoba menjamahnya, menemaninya hingga jantungnya berhenti berdetak, badannya semakin kaku dan dingin. Kami pun tertunduk diam, dan berdoa sejenak untuk keselamatannya.

 

Pemberkatan Jenazah oleh P. Aris Mada, SVD, P. Jozef Trzebuniak, SVD bersama Para Suster

Akhirnya kami meminta izin untuk memandikannya dan mendadaninya secara katolik. Kami menutup pintu lalu berdua dengan Suster Nely, memandikannya, mengenakan baju yang diberikan oleh suster dan mendandaninya dengan bedak (JOHNSON BABY) seadanya lalu mendoakannya secara katolik dan diberkati oleh dua Imam SVD. P. Aris Mada, SVD dan P. Jozef Trzebuniak, SVD.

Keluarga Menolak jenazah Indri

Sharing dan Penyerahan Jenazah kepada Keluarga-Kulonprogo Yogyakarta

Hingga saat ini, waria masih mengalami kesulitan ketika mereka meninggal. Sebagian besar, jenazah mereka ditolak oleh keluarganya sehingga harus bekerjasama dengan pemerintah walau kerap kali ditolak karena eksistensi mereka sebagai waria. Hal ini pun dialami oleh Agus. Perjuangan untuk mengembalikan Agus ke pangkuan keluarga dalam wujud jenazah cukup alot.  Keluarga tidak mau menerima jenazahnya jika masih bernama Indri, namun saya berusaha meyakinkan mereka dengan menunjukan bukti-bukti yang ada bahwa ia benar-benar telah kembali menjadi Agus sejati setelah pertobatannya menurut tata cara gereja katolik. Hingga pada akhirnya mereka mau share alamat rumah mereka dan mau menerima Agus.

Malam itu pukul 23:45 WIB, Stefani, Sr. M. Klara dan saya menghantar jenazah Agus kembali keluarganya di Gunung Kidul salah satu kampung diluar kota Yogyakarta. Perjalanan cukup lancar dan kami disambut dengan tangis keluarga dan warga sekampungnya. Setelah menurunkan jenazah, kami pun sharing tentang awal mula mengenal Agus hingga ajalnya, dan dengan penuh kasih persaudaraan kami menyerahkan Agus kembali ke keluarganya. Selamat jalan Saudara Agus… bahagia bersama para kudus di surga

Sr. Bernadetha Juana Meko, SSpS

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *