St. Arnoldus Jassen

Spread the love

SANTO ARNOLDUS JANSSEN

Arnold Janssen berasal dari latarbelakang keluarga yang sederhana. Ayahnya bernama Gerhard Janssen (+ 23 Mei 1870) dan ibunya bernama Anna Katharina Wellesen (+ 10 Mei 1891). Dari latar keluarga inilah terbentuk diri dan pribadi Arnold Janssen. Keluarga Janssen adalah keluarga yang amat unik, tidak berkecukupan secara material tetapi amat rajin dan setia pada iman katolik. Dan situasi ini amat didukung oleh seluruh situasi iman umat, anggota komunitas kota kecil Goch. Mereka membangun relasi kemanusiaan dan kerohanian yang baik. Hubungan antarmanusia selalu disepadankan dengan hubungan mereka dengan Tuhan. Dalam situasi seperti ini lahirlah Arnoldus Janssen pada 5 November 1837, anak ke 2 dari 11 bersaudara.

Sejak usia muda Arnold Janssen sudah berpikir tentang nasib dan keselamatan umat manusia seluruhnya. Keterbukaan iman inilah yang menuntun dia untuk berpikir dan memulai suatu paham misi universal. Ia ditahbiskan menjadi imam praja pada tahun 1861 yang terikat dengan diosesnya sendiri, namun semangat misi universal ini sungguh mendorongnya untuk menggapai banyak manusia di dunia lain. Dan semangat inilah yang menumbuhkan niatnya untuk mendirikan sebuah rumah misi dan menyiapkan para imam dan misionaris untuk bisa mengabdi di mana saja demi keselamatan umat manusia. Arnold Janssen sudah sejak dini sungguh menghayati ajakan dan perintah Tuhan, „pergilah ke seluruh bumi dan ajarlah segala bangsa menjadi murid-Ku atau wartakanlah kemulian Tuhan di antara para bangsa,“ seperti yang terungkap dalam mazmur tanggapan teks misa hari ini. Seperti rasul Paulus, Arnold Janssen juga ingin dan nekat mewartakan kekayaan Kristus kepada bangsa-bangsa tak beriman (Ef. 3: 8-12; 14-19).

Untuk mewujudkan ambisi besar ini Arnold Janssen menghadapi terlalu banyak kesulitan dan tantangan. Dari mana dia mendapat uang untuk membeli tanah dan seluruh proses pendidikan? Siapa saja yang bisa mendukung rencana ini? Siapa yang siap dan rela untuk masuk rumah ini dan kemudian rela juga berkelana di pelbagai negara lain untuk mencari dan menyelamatkan umat Tuhan? Apakah dia dengan mudah memperoleh izin untuk ambisi sebesar ini? Apalagi Jerman kala itu tengah menghadapi kenyataan hubungan yang tidak baik antara Gereja dan Negara di bawah ideologi Kulturkampf. Negara dilihat sebagai segala sesuatu; segala usaha dan kerja harus demi kepentingan negara. Absolutisme negara amat besar, penindasan terhadap kaum minoritas bukan Jerman, perlawanan terhadap Gereja di pelbagai aspek kehidupan, dll. Dan kita tahu bahwa pada tahun 1872 relasi diplomatis Jerman dengan Vatikan juga putus. Namun lewat pelbagai upaya, nasihat dan konsultasi, ide ambisius ini akhirnya menjadi kenyataan dengan pendirian rumah misi di Steyl, negeri Belanda, dan bukannya di Jerman, tanah airnya sendiri. Rumah misi ini secara resmi dibuka pada tanggal 8 September 1875 dan secara resmi juga hari ini dilihat sebagai hari berdirinya SVD.

Jelas, betapa iman dan kepercayaan Arnold akan cinta Tuhan terhadap dirinya dan terhadap seluruh usaha dan rencana kerjanya. Ia sangat yakin bahwa Tuhan akan tetap mendampingi dia melalui Sabda Nya yang menjelma menjadi manusia dan senantiasa tinggal di antara kita. Putra ini adalah Jesus sendiri, ungkapan cinta Allah yang paling besar terhadap kita manusia. Ia sadar bahwa Allah sungguh berkarya dan Allahlah yang memulai dan akan mendampingi kita selalu dengan cintaNya. Tanpa kita sadari, Allah sungguh berkarya dalam hidup dan karya kita manusia, sebagaimana terungkap dalam prolog injil Yohanes.

Rumah misi ini menjadi besar dan kemudian mengutus para misionarisnya ke seluruh dunia. Ide dasar yang kabur dan ideal akhirnya berubah menjadi kenyataan. Untuk menjalankan semua tugas dan fungsi pendidikan dan pewartaan, selain Serikat Sabda Allah (imam dan bruder SVD), Bapak Arnoldus Janssen juga mendirikan Tarikat para suster Misi Abdi Roh Kudus (SSpS) pada 8 Desember 1889, yang aktip terlibat dalam karya misi, dan Tarikat para suster SSpS Adorasi Abadi pada 8 Desember 1896, yang menekankan kehidupan doa dan kontemplasi. Mereka inilah yang menjadi dasar kekuatan para misionaris yang aktip di daerah misi.

Arnold Janssen yang kuat dan perkasa ini terserang stroke pada akhir tahun 1908. Akhirnya ia meninggal dengan tenang pada 15 Januari 1909 pada jam 1.00 lewat tengah malam, dan dimakamkan pada 19 Januari 1909.

“Arnold-Janssen adalah bukan seorang genius, tetapi seorang tokoh iman; dia bukan seorang yang pandai bicara dan berkata-kata secara meyakinkan, melainkan seorang pendoa besar; Ia telah berbicara kepada Gereja semesta lewat kata dan tindakan. Dia tidak hanya sebagai Pater-Dux-Fundator kita, tetapi juga adalah pendoa kita sekarang ini di hadapan Tuhan.”

Pada 19 Oktober 1975 bapak Arnoldus digelarkan beato dan pada hari Minggu, 5 Oktober 2003 digelarkan Santo (kanonisasi) oleh mendiang Paus Johanes Paulus II.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *